Dalam kegiatan pembelajaran terdapat aktivitas belajar mengajar yang dilaksanakan oleh siswa dan guru. Untuk mendapatkan output hasil belajar yang efisien, maka proses pembelajaran harus dilakukan secara sadar, kreatif, terorganisir dengan baik, serta dilakukan berdasarkan langkah-langkah yang sistematis.
Sedangkan pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang variatif, misalnya kerja kelompok, pemecahan masalah dan sebagainya. Pembelajaran kreatif mengharuskan guru untuk mampu merangsang peserta didik memunculkan kreatifitas, baik dalam konteks kreatif berfikir maupun dalam konteks kreatif melakukan sesuatu.
Diakui atau tidak, cara guru menyampaikan pelajaran juga berpengaruh banyak pada minat dan ketertarikan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, contohnya adalah pembelajaran apresiasi karya sastra puisi dalam pelajaran bahasa indonesia. Menyampaikan / memberitahukan materi yang dipelajari dengan metode ceramah tentunya belum cukup. Perlu pendekatan yang lebih tepat dan efisien, contohnya metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Metode Kontekstual.
Model Pembelajaran CTL menurut Sanjaya (2006) menyatakan bahwa belajar dalam CTL bukan hanya sekadar duduk, mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Lebih jauh ia mengupas bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga siswa didorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Sedangkan Blanchard (Trianto, 2007) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya.
Kedua metode pembelajaran diatas sangat cocok jika diterapkan dalam pembelajaran mapel bahasa Indonesia, khususnya dalam apresiasi sastra, menyusun dan membacakan puisi di Madrasah Aliyah Sunan Bejagung. Media yang digunakan yaitu alam, sesuai dengan materi yaitu menulis puisi keindahan alam. Setelah dijelaskan tentang pengertian, macam, dan jenis puisi, lalu siswa menuliskan apa yang sudah mereka temui di lapangan dalam bentuk syair. Syair itulah yang harus dibacakan sendiri oleh siswa dengan bimbingan Bapak/Ibu guru. Akan tetapi, pendekatan, metode,dan langkah-langkah pembelajaran ini juga harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik.
Berikut adalah dokumentasi sederhana kegiatan pembelajaran puisi di Madarasah Aliyah Sunan Bejagung.
(CE.Ad)